Slamat datang

SELAMAT DATANG DI BLOG UMI SUGIHARTI ALMANSHURI.... SEMOGA ALLOH TA'AALA SENANTIASA MERIDHOI JALINAN UKHUWAH ISLAMIYAH VIA BLOG UMI INI... DENGAN HARAPAN LIMPAHAN ROHMAT DAN KEBAROKAHAN MENAUNGI KITA SEMUA... AAMIIN...




Minggu, 23 Mei 2021

KISAH DAJJAL


باب أحاديث الدّجال وأشراط الساعة وغيرها

Dari An-Naas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ، فَخَفَّضَ فِيهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ في طَائِفَةِ النَّخْلِ. فَلَمَّا رُحْنَا إلَيْهِ، عَرَفَ ذلِكَ فِينَا، فَقالَ: «مَا شَأْنُكُمْ؟» قُلْنَا: يا رَسُولَ اللهِ، ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ الغَدَاةَ، فَخَفَّضْتَ فِيهِ وَرَفَّعْتَ، حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ، فقالَ: «غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفنِي عَلَيْكُمْ، إنْ يَخْرُجْ وَأنَا فِيكُمْ، فَأنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ؛ وَإنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ، فَامْرُؤٌ حَجيجُ نَفْسِهِ، واللهُ خَلِيفَتي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ. إنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأنّي أُشَبِّهُهُ بعَبْدِ العُزَّى بنِ قَطَنٍ، فَمَنْ أدْرَكَهُ مِنْكُمْ، فَلْيَقْرَأ عَلَيْهِ فَواتِحَ سُورَةِ الكَهْفِ؛ إنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالعِرَاقِ، فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ شِمالًا، يَا عِبَادَ اللهِ فَاثْبُتُوا» قُلْنَا: يَا رسُولَ اللهِ، وَمَا لُبْثُهُ في الأرْضِ؟ قال: «أرْبَعُونَ يَومًا: يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمْعَةٍ، وَسَائِرُ أيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَذلكَ اليَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أتَكْفِينَا فِيهِ صَلاَةُ يَوْمٍ؟ قَال: «لا، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ». قُلْنَا: يا رسولَ اللهِ، وَمَا إسْراعُهُ في الأرْضِ؟ قال: «كَالغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ، فَيَأتِي عَلَى القَوْمِ، فَيدْعُوهُم فَيُؤمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ، فَيَأمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ، وَالأرْضَ فَتُنْبِتُ، فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ أطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًى وَأسْبَغَهُ ضُرُوعًا، وأمَدَّهُ خَوَاصِرَ، ثُمَّ يَأتِي القَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ، فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَولَهُ، فَيَنْصَرفُ عَنْهُمْ، فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ لَيْسَ بِأيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِنْ أمْوَالِهِمْ، وَيَمُرُّ بِالخَرِبَةِ، فَيَقُولُ لَهَا: أخْرِجِي كُنُوزَكِ، فَتَتْبَعُهُ كُنُوزُهَا كَيَعَاسِيبِ النَّحْلِ، ثُمَّ يَدْعُو رَجُلًا مُمْتَلِئًا شَبَابًا فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ، فَيَقْطَعُهُ جِزْلَتَيْنِ رَمْيَةَ الغَرَضِ، ثُمَّ يَدْعُوهُ، فَيُقْبِلُ، وَيَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذلِكَ إذْ بَعَثَ اللهُ تَعَالَى المَسيحَ ابْنَ مَرْيَمَ – صلى الله عليه وسلم – فَيَنْزِلُ عِنْدَ المَنَارَةِ البَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ، وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ، إذا طَأطَأَ رَأسَهُ قَطَرَ، وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤ، فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إلاَّ مَاتَ، وَنَفَسُهُ يَنْتَهِي إلى حَيثُ يَنْتَهِي طَرْفُهُ، فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ، ثُمَّ يَأتِي عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – قَومًا قَدْ عَصَمَهُمُ اللهُ مِنهُ، فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِي الجَنَّةِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذلِكَ إذْ أوْحَى اللهُ تَعَالَى إلى عِيسَى – صلى الله عليه وسلم: أنِّي قَدْ أخْرَجْتُ عِبَادًا لي لا يَدَانِ لأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِي إلى الطُّورِ. وَيَبْعَثُ اللهُ يَأجُوجَ وَمَأجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، فَيَمُرُّ أوائِلُهُمْ عَلَى بُحيرَةِ طَبَريَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا، وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ كَانَ بهذِهِ مَرَّةً ماءٌ، وَيُحْصَرُ نَبيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وأصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِئَةِ دينَارٍ لأَحَدِكُمُ اليَوْمَ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وأصْحَابُهُ – رضي الله عنهم – إلى اللهِ تَعَالَى، فَيُرْسِلُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمُ النَّغَفَ في رِقَابِهِمْ، فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وأصْحَابُهُ – رضي الله عنهم – إلى الأرْضِ، فَلاَ يَجِدُونَ في الأرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتَنُهُمْ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وَأصْحَابُهُ – رضي الله عنهم – إلى اللهِ تَعَالَى، فَيُرْسِلُ اللهُ تَعَالَى طَيْرًا كَأَعْنَاقِ البُخْتِ، فَتَحْمِلُهُمْ، فَتَطْرَحُهُمْ حَيثُ شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ – عز وجل – مَطَرًا لاَ يُكِنُّ مِنهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ، فَيَغْسِلُ الأرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَقَةِ، ثُمَّ يُقَالُ للأرْضِ: أنْبِتي ثَمَرتكِ، وَرُدِّي بَرَكَتَكِ، فَيَوْمَئِذٍ تَأكُلُ العِصَابَةُ مِنَ الرُّمَّانَةِ، وَيَسْتَظِلُّونَ بِقَحْفِهَا، وَيُبَارَكُ فِي الرِّسْلِ حَتَّى أنَّ اللّقْحَةَ مِنَ الإِبِلِ لَتَكْفِي الفِئَامَ مِنَ النَّاسِ؛ وَاللِّقْحَةَ مِنَ البَقَرِ لَتَكْفِي القَبِيلَةَ مِنَ النَّاسِ، وَاللِّقْحَةَ مِنَ الغَنَمِ لَتَكْفِي الفَخِذَ مِنَ النَّاسِ؛ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إذْ بَعَثَ اللهُ تَعَالَى ريحًا طَيِّبَةً فَتَأخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ؛ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيها تَهَارُجَ الحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ. رواه مسلم

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu pagi pernah berbicara tentang Dajjal. Dalam ceritanya terkadang beliau menghinakan Dajjal dan terkadang menjelaskan kedahsyatan fitnah yang ditimbulkannya sehingga kami seolah-olah mengira Dajjal itu berada di dalam sebagian perkebunan kurma.”

Setelah kami kembali kepada beliau dan beliau mengetahui bahwa kami mempunyai persoalan, maka beliau bertanya: “Ada apa dengan kalian?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, tadi pagi engkau berbicara tentang Dajjal. Dalam pembicaraan itu, terkadang engkau menghinakan Dajjal dan terkadang menjelaskan kedahsyatan fitnahnya sehingga kami mengira kalau Dajjal itu berada di sebagian perkebunan kurma.”

Beliau bersabda: “Bukan Dajjal itu yang paling aku khwatirkan terhadap kallian. Jika dia muncul dan aku masih berada di antara kalian, tentu aku akan membela kalian untuk menghadapinya. Namun, jika dia muncul sedang aku sudah tidak bersama kalian, maka setiap orang akan membela diri masing-masing dan Allah Ta’ala sebagai penggantiku, menjadi pembela setiap muslim. Dajjal adalah seorang pemuda berambut sangat keriting, matanya hampir keluar. Seakan-akan aku menyerupakan dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan. Barangsiapa di antara kalian yang bertemu dengannya maka bacakanlah kepadanya permulaan surat Al-Kahfi. Dia akan muncul di suatu jalan antara Syam dan Irak, lalu dia pergi membuat kerusakan, ke kanan dan ke kiri. Wahai hamba Allah! Teguhkanlah pendirianmu!”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, dan selebihnya seperti hari-hari kamu sekarang.”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, ketika sehari seperti setahun, cukuplah bagi kami kalau shalat hanya sehari?”

Beliau menjawab, “Tidak, tetapi perkirakanlah sebagaimana hari biasanya.”

Kami bertanya, “bagaimana kecepatan Dajjal berjalan di bumi?” Beliau menjawab, “Dajjal berjalan seperti hujan ditiup angin.” Dia akan mendatangi suatu kaum, lalu diajaknya kaum itu supaya beriman kepadanya, maka mereka pun beriman dan mematuhi segala perintahnya. Diperintahkannya langit supaya menurunkan hujan, sehingga turunlah hujan dan diperintahkannya bumi supaya subur sehingga tumbuhlah tumbuh-tumbuhan. Kemudian (Jika hari sudah petang) ternak-ternak mereka pun pulang ke kandang dalam keadaan lebih gemuk, berpunuk lebih tinggi, kantung susunya lebih besar, dan perut lebih lebar (kenyang).”

Setelah itu, didatangi kaum yang lain, lalu diajaknya mereka supaya beriman kepadanya, tetapi mereka menolak ajakannya, maka dia berlalu dari mereka. Keesokan harinya, daerah kaum itu menjadi gersang, hujan tidak turun, dan tidak sedikit pun kekayaan mereka tersisa.

Kemudian, dia melewati suatu daerah yang sudah hancur, lalu dia berkata kepada daerah itu: “Keluarkanlah perbendaharaan kekayaanmu.” Maka keluarlah seluruh kekayaan negeri itu dan kekayaan-kekayaan itu mengikuti Dajjal seperti raja lebah yang pergi dengan diikuti rakyatnya.

Setelah itu, Dajjal memanggil seorang pemuda belia, lalu ditebasnya dengan pedang sehingga tubuh anak muda itu terbelah menjadi dua, bahkan belahannya terlempar sejauh sasaran anak panah yang ditembakkan. Kemudian, Dajjal memanggil tubuh yang telah terbelah itu untuk kembali, tenyata dia kembali datang seutuhnya dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.

Sementara Dajjal berada dalam keasyikannya dengan perbuatan-perbuatannya yang amat merusak, Allah Ta’ala pun mengutus ‘Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihis salam. Dia turun di menara putih sebelah timur Damaskus dengan memakai dua pakaian berwarna sambil berpegangan pada dua sayap malaikat. Apabila dia menundukan kepala, turunlah air dari kepalanya, sedangkan apabila ia mengankat kepalanya, berjatuhanlah air jernih bagaikan biji=-biji perak seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau nafasnya, melainkan dia pasti mati, sedangkan bau nafasnya tercium sejauh pandangan mata.

Kemudian, ‘Isa ‘alaihis salam mencari Dajjal sampai beliau mendapatkannya di pintu gerbang kota Ludd, lalu beliau membunuhnya. Setelah itu, ‘Isa ‘alaihis salam didatangi oleh suatu kaum yang dilindungi Allah dari kejahatan Dajjal. Beliau pun mengusap wajah dan menceritakan kedudukan mereka di surga. Kemudian, pada saat itu juga, Allah Ta’ala mewahyukan kepada ‘Isa ‘alaihis salam: “Aku pasti akan mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak terkalahkan oleh siapa pun yang memerangi mereka. Oleh karena itu, selamatkanlah hamba-hambaKu ke suatu bukit.”

Setelah itu, Allah Ta’ala membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj. Mereka datang dengan cepat dari tempat yang tinggi (muncul dimana-mana). Bagian terdepan dari kelompok besar ini melewati danau Thiberia, lalu mereka meminum habis air danau tersebut sehingga ketika rombongan yang paling akhir melewatinya, mereka berakta: “Sesungguhnya dahulu danau ini ada airnya.”

Pasa saat itulah, Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabat beliau terkepung, sampai-sampai sebuah kepala sapi lebih berharga bagi mereka daripada seratus dinar bagi seseorang di antara kalian pada hari ini (karena mereka kehabisan makanan dan sangat membutuhkannya). Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabatnya berdo’a: “Semoga Allah menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj.” Maka dari itu, Allah mengirimkan ulat yang menyerang leher mereka, sehingga mereka semua mati mendadak. Kemudian, Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabatnya turun semua ke daerah tersebut. Tidak sejengkal tanah pun yang didapatinya, melainkan tanah itu penuh dengan bau busuk.

Nabi Allah ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabatnya berdo’a lagi kepada ALlah (agar menyingkirkan bangkai-bangkai busuk itu). Maka Allah mengirimkan burung-burung sebesar unta untuk mengangkat bangkai-bangkai tersebut dan melemparkannya ke tempat yang dikehendaki Allah. Selanjutnya Allah menurunkan hujan sehingga ia menyapu bersih semua rumah permanen dan kemah-kemah dari bulu, sampai-sampai air tersebut menggenangi bumi sehingga keliahatan seperti cermin. Allah pun memerintahkan kepada bumi: “Tumbuhkan tumbuh-tumbuhanmu dan kembalikanlah keberkahanmu.”

Pada waktu itulah, sekelompok orang dapat kenyang dengan memakan sebutir delima saja, bahkan mereka dapat berteduh di bawah kulitnya. Rizki mereka penuh keberkahan, sehingga susu seekor unta cukup untuk sekian banyak orang. Susu seekor sapi cukup untuk prang satu suku. Susu seekor kambing cukup untuk sekelompok keluarga terdekat.

Ketika mereka sedang berada dalam keridhaan Allah yang demikian, tiba-tiba Allah mengirim angin balik yang berhembus melewati ketiak mereka. Angin tersebut mencabut roh setiap mukmin dan muslim sehingga yang tertinggal hanyalah orang-orang yang jahat pada waktu itu. Mereka pun hidup dengan melakukan hubungan badan secara terang-terangan seperti keledai. Pada saat itulah, kiamat terjadi.” (HR Muslim)

Minggu, 10 November 2019

Ungkapan Kecintaan Kepada Nabi Muhammad

Banyak keutamaan-keutamaan yang dapat diperoleh bagi seorang muslim yang mau mengangungkan baginda Nabi Muhammad.

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah 
Sebagai
√ .Ungkapan Kecintaan Umat Kepada Beliau Bahkan orang kafir saja mendapatkan manfaat dengan kegembiran itu.

فقد جاء في البخاري أنه يخفف عن أبي لهب كل يوم الإثنين بسبب عتقه لثويبة جاريته لما بشّرته بولادة المصطفى صلى الله عليه وسلم. وهذا الخبر رواه البخاري في الصحيح في كتاب النكاح معلقا ونقله الحافظ ابن حجر في الفتح. 
ورواه الإمام عبد الرزاق الصنعانيفي المصنف ج ٧ ص ٤٧٨

Dalam hadits di atas yang diriwayatkan Imam al-Bukhori. dikisahkan ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu lahab, paman nabi , menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang jabang bayi yang sangat mulia , Abu Lahab pun memerdekan Tsuwaibah sebagai tanda cinta dan kasih. Dan karena kegembiraannya, kelak di hari kiamat siksa atas dirinya diringankan setiap hari senin tiba.

Meneguhkan Kembali Kecintaan kepada Beliau

Meneguhkan kembali kecintaan kepada Nabi Muhammad. Bagi seorang mukmin, kecintaan kepada Nabi adalah sebuah keharusan, salah satu untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Kecintaan kepada nabi harus berada diatas segalanya, bahkan melebihi kecintaan kepada istri, anaknya, bahkan  kecintaan diri sendiri.

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحبّ إليه من ولده ووالده والناس أجمعين.
“Tidak sempurna iman salah satu diantara kamu sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada anaknya, orang tuanya dan seluruh manusia.” (HR. Bukhori Muslim).

Mendapatkan Rahmat Allah SWT

Mendapatkan rahmat Allah berupa taman surga dan dibangkitkan bersama-sama golongan orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang yang sholeh. Imam Sirri Saqathi Rahimahullah  berkata:

من قصد موضعا يقرأ فيه مولد النبي صلى الله عليه وسلم فقد قصد روضة من رياض الجنة لأنه ما قصد ذلك الموضع إلا لمحبة النبي صلى الله عليه وسلم : وقد قال صلى الله عليه وسلم: من أحبني كان معي في الجنة.

“Barang siapa menyengaja (pergi) ke suatu tempat yang dalamnya terdapat pembacaan maulid nabi, maka sungguh ia telah menyengaja (pergi) ke sebuah taman dari taman-taman surga, karena ia menuju tempat tersebut melainkan kecintaannya kepada baginda rasul. Rosulullah bersabda:  barang siapa mencintaku, maka ia akan bersamaku di syurga.

Sedangkan Imam Syafi’i Rohimahullah berkata:

من جمع لمولد النبي صلى الله عليه وسلم إخوانا وهيأ طعاما وأخلى مكانا وعمل إحسانا وصار سببا لقراءته بعثه الله يوم القيامة مع الصادقين والشهداء والصالحين ، ويكون في جنات النعيم.

“Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudara untuk memperingati Maulid nabi, kemudian menyediakan makanan, tempat, dan berbuat kebaikan untuk mereka serta ia menjadi sebab untuk atas dibacakannya maulid nabi, maka Allah akan membangkitkan dia bersama-sama orang yang jujur, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang sholeh. Dan dia akan dimasukkan dalam syurga na’im.”

Dalil-dalil tentang Maulid Nabi Muhammad SAW

Banyak dalil-dalil, baik al-Qur’an, al-Sunnah, maupun perkataan ulama, yang menunjukkan dianjurkannnya memperingati Maulid Nabi. Diantaranya dalam al-Qur’an surat Yunus ayat 58 dan surat al-Abiya’ ayat 107.

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ.(يونس: ٨٥

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (QS. Yunus: 58)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. الأنبياء: ١٠٧

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS al-Anbiya: 107)

Kelahiran Nabi Muhammad digambarkan oleh al-Qur’an sebagai keutamaan dan rahmat yang universal dan agung, memberikan kebahagiaan dan kebaikan bagi seluruh manusia. dalam dua ayat di atas Allah SWT dengan lahirnya beliau dan diutusnya beliau sebagai rasul adalah sebuah rahmat yang tidak terkira bagi seluruh alam semesta ini, rahmatan lil ‘alamin. Merayakan tahun kelahiran raja, negara, atau hanya orang biasa, saja bermegah-megahan, kenapa kita sebagai muslim merayakan kelahiran  Nabi yang disanjung-sanjung, cukup dengan shalawat, salam, dzikir, doa, dan berbuat kebaikan seperti sedekah dan membahagiakan orang, ogah-ogahan?

عن أبي قتادة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم سُئل عن صوم يوم الإثنين؟ فقال “فيه ولدت، وفيه أنزل علي” 
رواه الإمام مسلم في الصحيح في كتاب الصيام.

Dari Abi Qotadah Ra, bahwa Rasulullah SAW ditanya mengenai puasa hari senin. Maka beliau menjawab “Di hari itu aku dilahirkan, dan di hari itu diturunkan padaku (al-Qur’an)” (HR. Imam Muslim dalam Shohih-nya pembahasa tentang puasa)

Hari  senin, hari kelahiran Nabi, oleh beliau dianjurkan untuk melakukan puasa. Hal tersebut menunjukkan keutamaan hari itu, dimana cayaha kebenaran terbentang di negeri padang pasir yang jahiliyyah. Pantas jika kelahiran beliau adalah sebuah hari yang patut untuk diperingati dan diisi dengan kegiatan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Ibn Asyakir, Ibn Warrahawi, dan al-Dhiya’ dari shahabat Abu Sa’id al-Khurdi disebutkan:

أَتَانِيْ جِبْرِيْلُ فَقَالَ إِنَّ رَبِّيْ وَرَبَّكَ يَقُوْلُ لَكَ: تَدْرِى كَيْفَ رَفَعْتُ ذِكْرَكَ؟ قُلْتُ: اَللهُ أَعْلَمُ. قَالَ: لاَ أَذْكُرُ إِلاَّ ذُكِرْتَ مَعِيْ (ع حب) وابن عساكر وابن والرهاوي في الأربعين، والضياء في المختارة عن أبى سعيد الخدري . 
(فيض القدير جزء ١ ص:١٢٨

“Jibril datang kepadaku, lalu berkata ‘Sesungguhnya Tuhanku dan Tuhanmu berkata kepadamu: Kamu tahu, bagaimana aku mengangkat sebutanmu? Lalu aku menjawab: Allahu a’lam. Jibril berkata: Aku tidak akan menyebut, kecuali engkau disebut bersamaku.” (HR. Ibnu ‘Asyakir, Ibnu Warrohawi dalam kitab al-‘Arbain, dan al-Dhiya’ dalam kitab al-Mukhtarah dari Sahabat Abu Sa’id al-Khudri)

Bahkan Ibnu Taimiyah yang menjadi kiblat pemikiran para tokoh Islam kanan, dan digambarkan sangat menolak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. malah menganjurkan untuk melakukannya, bahkan dikatakan memiliki faedah pahala. Hal tersebut tidak dijelaskan oleh siapapun, tapi oleh beliau sendiri dalam kitab beliau Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim halaman 297. Berikut stetemen beliau dalam kitab tersebut:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كَمَا قَدَّمْتُهُ لَكَ. (الشيخ ابن تيمية، اقتضاء الصراط المستقيم، مخالفة أصحاب الجحيم: ص/٢٩٧.
Mengagungkan maulid (Nabi Muhammad) dan melakukannya rutin (setiap tahun), yang kadang dilakukan oleh sebagian orang. Dan baginya dalam merayakan maulid tersebut, pahala yang agung/besar karena tujuan yang baik dan mengagungkan Rasulullah SAW. dan keluarga beliau. Sebagaimana yang telah aku sampaikan padamu. 
(Syaikh Ibn Taimiyah, Iqtidla’u al-Shirati al-Mustaqim, Mukholafatu Ashhabi al-Jahim: 297)

فقام عند ذلك السبكي، وجميع من عنده فحصل أنس كبير في ذلك المجلس ، وعمل المولد واجتماع الناس له كذلك مستحسن. قال الإمام أبو شامة شيخ النووي: من أحسن ما إبتدع في زماننا ما يفعل كل عام في اليوم الموافق ليوم مولده صلى الله عليه وسلم من الصدقة والمعروف وإظهار الزينة والسرور فإن فيه مع الإحسان للفقراء إشعارا بمحبته صلى الله عليه وسلم وتعظيمه وشكر على ما من به علينا.  قال السخاوي وحدوث عمل المولد بعد القرون الثلاثة ، ثم لا زال المسلمون يفعلونه. وقال إبن الجوزي من خواصه أنه أمان في ذلك العام وبشري عاجلة، واول من أحدثه من الملوك المظفر. قال سبط إبن الجوزي في مرأة الزمان: حكي لي من حضر سماط المظفر في بعض المولد أنه عد فيه خمسة الاف رأس غنم شواء وعشرة ألاف دجاجة ومائة ألف زبدية وثلاثين الف صحن حلواء ، وكان يحضره أعيان العلماء والصوفية ، ويصرف عليه ثلاثمائة الف دينار.   
(إسعاد الرفيق جزء ١ ص ٢٦)

Imam Subkhi dan para pengikutnya juga menganggap baik peringatan maulid dan berkumpulnya manusia untuk merayakannya. 
Imam Abu Syammah Syaikh An-Nawawi mengatakan bahwa barang siapa yang melakukan kebaikan seperti hal-hal baik yang terjadi di zaman kami yang dilakukan oleh masyarakat umum di hari yang bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. diantarnya sedekah, berbuat baik, memperlihatkan kebahagiaan. 
Maka sesungguhnya dalam hari tersebut beliau menganjurkan agar umat muslim berbuat baik kepada para fakir sebagai syiar kecintaan terhadap baginda Rasul. mengangungkan beliau, dan sebagai ungkapan rasa syukur.

Menurut Imam al-Sakhawi, adanya peringatan itu sejak abad ketiga hijriyah. Sejak itu, orang-orang Islam terus mengerjakannya.

Bahkan, Ibnu al-Jauzi, yang biasanya dijadikan hujjah oleh para kaum ekstrimis kanan mengharamkan perayaan maulid, sama seperti Ibn Taimiyah, malah menukil sejarah maulid itu sendiri. 
Ibn al-Jauzi mengatakan bahwa perayaan maulid dimulai pada masa Raja al-Mudhafar. 
Beliau menceritakan parayaan tersebut sangat besar, megah, dan penuh dengan kebahagiaan yang tidak terkira. Disediakan 5.000 kambing, 10.000 ayam, 100.000 porsi, dan 30.000 piring manisan. Dihadiri oleh para ulama dan para sufi, yang oleh Raja al-Mudhaffar diberikan setiap orang 300.000 dinar. 
(Is’adur Rofiq:1:26)

Kalau saja rasul masih hidup, apa yang hendak kita banggakan di hadapan beliau? Kemaksiatan, dosa, dan tidak menjalankan ajaran beliau, apa itu yang bisa kita sampaikan? 
Hanya sekedar merayakan dengan sederhana namun bermakna dan penuh rahmat dan berkah, kita merasa enggan dan justru secara buta mengharamkannnya, 

Selamat hari Maulid Nabi Muhammad SAW.

Rabu, 23 Oktober 2019

-(حزب الشيطان)-

إِلٰى حَضْرَة النَّبِىِّ الْـمُصْطَفٰى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. ثُمَّ إلٰى حَضْرَةِ الشَّيْــخِ أَبِى الْحَسَنِ الشَّاذَلِى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ الْفَاتِحَةِ :....
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ, لَايُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوْءِ مِنَ الْقَوْلِ مَنْ ظُلِمَ. وَكَانَ اللهُ سَمِيْعًا عَلِيْمًا حٓمٓ حٓمٓ حٓمٓ حٓمٓ حٓمٓ حٓمٓ حٓمٓ حُمَّ اْلأَمْرُ وَجَآءَ النَّصْرُ فَعَلَيْنَا لَايُنْصَرُوْنَ. حٓمٓعٓسٓقٓ حِمَايَتُنَا مِمَّا نَخَافُ اللّٰهُمَّ مِنْ فِئَـــتَيْنِ الْقَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَـــتَـــيْنِ كَـــثِـــيْرَةً بِـــإِذْنِ اللهِ.
نَسْأَلُكَ بِحَقِّ وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ, إنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا. قَالَ مُوْسٰى مَاجِئْــتُمْ بِهِ السِّحْرُ, إنَّ اللهَ سَيُبْطِلُهُ, إنَّ اللهَ لَايُصْلِحُ عَمَلَ الْـمُفْسِدِيْنَ (يَااللهُ 3×)
(يَاقَهَّارُ 3×) (يَاجَبَّارُ 3×) إنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. اَللّٰهُمَّ إنَّا نَسْئَلُكَ وَنَسْتَحْفِظُكَ وَنَسْتَوْدِعُكَ أَدْيَانَنَا وَأَبْدَانَنَا وَأَنْفُسَنَا وَأَمْوَالَنَا وَأَهْلَنَا وَأَوْلَادَنَا وَكُــلَّ شَيْئٍ أَعْطَيْتَنَا. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ فىِ كَنَفِكَ وَأَمَانِكَ وَعِيَاذِكَ وَجِوَارِكَ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَّرِيْدٍ وَجَبَّارٍ عَنِيْدٍ. وَذِى عَيْنٍ وَذِى بَغْيٍ وَذِى حَسَدٍ وَذِى سِحْرٍ وَمِنْ شَّرِّ كُلِّ ذِى شَرٍّ إنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. (اَللّٰهُمَّ اجْمِلْنَا بِالْعَفيَّــةِ وَالسَّلَامَةِ 3×) اَللّٰهُمّ احْفَظْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ شَرِّ كُلِّ ذِى شَرٍّ وَمِنْ كُلِّ مَنْ يُريْدُنِى بِسُوْءٍ. اَللّٰهُمَّ سَدَّا عَنْـهُمْ مَسَالِكَهُمْ وَاتْـــبَعْ عَلٰى قُلُوْبِـهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ فَخِفْنِى عَنْـهُم إنَّكَ تَفْعَلُ مَاتَشَآءُ تُريدُ. يَااللهُ اِسْتَجِبْ لَنَا بِحَقِّ اسْمِكَ الْكَرِيْمِ الْعَظِيْمِ وَبِحَقِّ كَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ وَبِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَلَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. اَللّٰهُمّ اجْبُرْنِى مِنْ جَمِيْعِ أَصْنَافِ الْجِنِّ وَأَنْوَاعِهَا وَأَجْنَاسِهَا وَبكَلِمَاتِ التَّآمَّةِ الْـمُبَارَكَةِ وَبِاسْمِكَ الْعَظِيْمِ الأَعْظَمِ مُبَجَّــلِ الْـمُعَظَّمِ الـمُـكَرَّمِ حِجَابًا مَنِيْعًا, سَقْفُهُ مِدَدُ نُوْرِ اسْمِكَ الْحَيِّ الْقَيُّوْمِ حِطَانُهُ سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبِّ رَّحِيْمٍ. دَآئِرَتُــهُ لَهُ مُعَاقِبَةٌ مِنْ بَـــيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُوْنَهُ مِنْ فَوْقِى وَمِنْ تَحْتِى وَمِنْ أَمَامِى وَمِنْ خَلْفِى وَعَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ شِمَالِى بِمَا حَفِظْتَ بِهِ الذِّكْرَ إنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. وَبِالْإِجَابَةِ جَدِيْرٌ. وَصَلَّى اللهُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

(تصيام بسبعة أيام مع ترك مافيه الروح, وتقرأ بعد المكتوبات)

jika ada seseorang yang
terkena gangguan jin/makhluk gaib/perbuatan jahat
manusia? Anda bisa menolongnya dengan membaca
hizib ini 1/3/5/7 kali kemudian ditiupkan pada
segelas air lalu diminumkan bagi si penderita.
Atau jika ada orang ayan, gila, terkena sihir,
santet, pelet, guna-guna, orang yang mengamuk dan sejenisnya,
anda bisa membacakan hizib syaiton ini pada telapak
tangan anda lalu diusapkan pada si penderita tersebut.

Insya Allah akan segera sadar dan sembuh berkat izin dari Allah ﷻ.

Senin, 21 Oktober 2019

Mars FSI (Front Santri Indonesia)

لآ اِلَهَ اِلّا اللّه, لآ اِلَهَ اِلّا اللّهُ لآ اِلَهَ اِلّااللّه مُحَمَّدٌ رَسُوُل اللّهِ 
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ
عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ 
عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ 

KAMI SANTRI INDONESIA
CINTA ALLAH MAHA ESA
CINTA NABI & KELUARGA
CINTA SHAHABAT & ULAMA

KAMI SANTRI INDONESIA
BELA AGAMA & AQIDAH
BELA AKHLAQ & SYARI’AT
BELA BANGSA & NEGARA

KAMI SANTRI INDONESIA
AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH
SYAFI’IYAH ASY’ARIYAH
INILAH FIRQOH NAJIYAH.

Minggu, 20 Oktober 2019

KISAH DAJJAL, KISAH YA’JUJ DAN MA’JUJ, DAN TANDA-TANDA HARI KIAMAT YANG LAINNYA (باب أحاديث الدّجال وأشراط الساعة وغيرها)

Dari An-Naas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ، فَخَفَّضَ فِيهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ في طَائِفَةِ النَّخْلِ. فَلَمَّا رُحْنَا إلَيْهِ، عَرَفَ ذلِكَ فِينَا، فَقالَ: «مَا شَأْنُكُمْ؟» قُلْنَا: يا رَسُولَ اللهِ، ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ الغَدَاةَ، فَخَفَّضْتَ فِيهِ وَرَفَّعْتَ، حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ، فقالَ: «غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفنِي عَلَيْكُمْ، إنْ يَخْرُجْ وَأنَا فِيكُمْ، فَأنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ؛ وَإنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيكُمْ، فَامْرُؤٌ حَجيجُ نَفْسِهِ، واللهُ خَلِيفَتي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ. إنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِيَةٌ، كَأنّي أُشَبِّهُهُ بعَبْدِ العُزَّى بنِ قَطَنٍ، فَمَنْ أدْرَكَهُ مِنْكُمْ، فَلْيَقْرَأ عَلَيْهِ فَواتِحَ سُورَةِ الكَهْفِ؛ إنَّهُ خَارِجٌ خَلَّةً بَيْنَ الشَّامِ وَالعِرَاقِ، فَعَاثَ يَمِينًا وَعَاثَ شِمالًا، يَا عِبَادَ اللهِ فَاثْبُتُوا» قُلْنَا: يَا رسُولَ اللهِ، وَمَا لُبْثُهُ في الأرْضِ؟ قال: «أرْبَعُونَ يَومًا: يَوْمٌ كَسَنَةٍ، وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ، وَيَوْمٌ كَجُمْعَةٍ، وَسَائِرُ أيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، فَذلكَ اليَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أتَكْفِينَا فِيهِ صَلاَةُ يَوْمٍ؟ قَال: «لا، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ». قُلْنَا: يا رسولَ اللهِ، وَمَا إسْراعُهُ في الأرْضِ؟ قال: «كَالغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيحُ، فَيَأتِي عَلَى القَوْمِ، فَيدْعُوهُم فَيُؤمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَجِيبُونَ لَهُ، فَيَأمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ، وَالأرْضَ فَتُنْبِتُ، فَتَرُوحُ عَلَيْهِمْ سَارِحَتُهُمْ أطْوَلَ مَا كَانَتْ ذُرًى وَأسْبَغَهُ ضُرُوعًا، وأمَدَّهُ خَوَاصِرَ، ثُمَّ يَأتِي القَوْمَ فَيَدْعُوهُمْ، فَيَرُدُّونَ عَلَيْهِ قَولَهُ، فَيَنْصَرفُ عَنْهُمْ، فَيُصْبِحُونَ مُمْحِلِينَ لَيْسَ بِأيْدِيهِمْ شَيْءٌ مِنْ أمْوَالِهِمْ، وَيَمُرُّ بِالخَرِبَةِ، فَيَقُولُ لَهَا: أخْرِجِي كُنُوزَكِ، فَتَتْبَعُهُ كُنُوزُهَا كَيَعَاسِيبِ النَّحْلِ، ثُمَّ يَدْعُو رَجُلًا مُمْتَلِئًا شَبَابًا فَيَضْرِبُهُ بِالسَّيْفِ، فَيَقْطَعُهُ جِزْلَتَيْنِ رَمْيَةَ الغَرَضِ، ثُمَّ يَدْعُوهُ، فَيُقْبِلُ، وَيَتَهَلَّلُ وَجْهُهُ يَضْحَكُ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذلِكَ إذْ بَعَثَ اللهُ تَعَالَى المَسيحَ ابْنَ مَرْيَمَ – صلى الله عليه وسلم – فَيَنْزِلُ عِنْدَ المَنَارَةِ البَيْضَاءِ شَرْقِيَّ دِمَشقَ بَيْنَ مَهْرُودَتَيْنِ، وَاضِعًا كَفَّيْهِ عَلَى أَجْنِحَةِ مَلَكَيْنِ، إذا طَأطَأَ رَأسَهُ قَطَرَ، وَإِذَا رَفَعَهُ تَحَدَّرَ مِنهُ جُمَانٌ كَاللُّؤْلُؤ، فَلاَ يَحِلُّ لِكَافِرٍ يَجِدُ رِيحَ نَفَسِهِ إلاَّ مَاتَ، وَنَفَسُهُ يَنْتَهِي إلى حَيثُ يَنْتَهِي طَرْفُهُ، فَيَطْلُبُهُ حَتَّى يُدْرِكَهُ بِبَابِ لُدٍّ فَيَقْتُلُهُ، ثُمَّ يَأتِي عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – قَومًا قَدْ عَصَمَهُمُ اللهُ مِنهُ، فَيَمْسَحُ عَنْ وُجُوهِهِمْ وَيُحَدِّثُهُمْ بِدَرَجَاتِهِمْ فِي الجَنَّةِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذلِكَ إذْ أوْحَى اللهُ تَعَالَى إلى عِيسَى – صلى الله عليه وسلم: أنِّي قَدْ أخْرَجْتُ عِبَادًا لي لا يَدَانِ لأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ، فَحَرِّزْ عِبَادِي إلى الطُّورِ. وَيَبْعَثُ اللهُ يَأجُوجَ وَمَأجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ، فَيَمُرُّ أوائِلُهُمْ عَلَى بُحيرَةِ طَبَريَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا، وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ كَانَ بهذِهِ مَرَّةً ماءٌ، وَيُحْصَرُ نَبيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وأصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِئَةِ دينَارٍ لأَحَدِكُمُ اليَوْمَ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وأصْحَابُهُ – رضي الله عنهم – إلى اللهِ تَعَالَى، فَيُرْسِلُ اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِمُ النَّغَفَ في رِقَابِهِمْ، فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وأصْحَابُهُ – رضي الله عنهم – إلى الأرْضِ، فَلاَ يَجِدُونَ في الأرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إلاَّ مَلأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتَنُهُمْ، فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى – صلى الله عليه وسلم – وَأصْحَابُهُ – رضي الله عنهم – إلى اللهِ تَعَالَى، فَيُرْسِلُ اللهُ تَعَالَى طَيْرًا كَأَعْنَاقِ البُخْتِ، فَتَحْمِلُهُمْ، فَتَطْرَحُهُمْ حَيثُ شَاءَ اللهُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ – عز وجل – مَطَرًا لاَ يُكِنُّ مِنهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ، فَيَغْسِلُ الأرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَقَةِ، ثُمَّ يُقَالُ للأرْضِ: أنْبِتي ثَمَرتكِ، وَرُدِّي بَرَكَتَكِ، فَيَوْمَئِذٍ تَأكُلُ العِصَابَةُ مِنَ الرُّمَّانَةِ، وَيَسْتَظِلُّونَ بِقَحْفِهَا، وَيُبَارَكُ فِي الرِّسْلِ حَتَّى أنَّ اللّقْحَةَ مِنَ الإِبِلِ لَتَكْفِي الفِئَامَ مِنَ النَّاسِ؛ وَاللِّقْحَةَ مِنَ البَقَرِ لَتَكْفِي القَبِيلَةَ مِنَ النَّاسِ، وَاللِّقْحَةَ مِنَ الغَنَمِ لَتَكْفِي الفَخِذَ مِنَ النَّاسِ؛ فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إذْ بَعَثَ اللهُ تَعَالَى ريحًا طَيِّبَةً فَتَأخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ؛ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيها تَهَارُجَ الحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ.
 رواه مسلم

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu pagi pernah berbicara tentang Dajjal. Dalam ceritanya terkadang beliau menghinakan Dajjal dan terkadang menjelaskan kedahsyatan fitnah yang ditimbulkannya sehingga kami seolah-olah mengira Dajjal itu berada di dalam sebagian perkebunan kurma.”

Setelah kami kembali kepada beliau dan beliau mengetahui bahwa kami mempunyai persoalan, maka beliau bertanya: “Ada apa dengan kalian?” Kami menjawab: “Wahai Rasulullah, tadi pagi engkau berbicara tentang Dajjal. Dalam pembicaraan itu, terkadang engkau menghinakan Dajjal dan terkadang menjelaskan kedahsyatan fitnahnya sehingga kami mengira kalau Dajjal itu berada di sebagian perkebunan kurma.”

Beliau bersabda: “Bukan Dajjal itu yang paling aku khwatirkan terhadap kallian. Jika dia muncul dan aku masih berada di antara kalian, tentu aku akan membela kalian untuk menghadapinya. Namun, jika dia muncul sedang aku sudah tidak bersama kalian, maka setiap orang akan membela diri masing-masing dan Allah Ta’ala sebagai penggantiku, menjadi pembela setiap muslim. Dajjal adalah seorang pemuda berambut sangat keriting, matanya hampir keluar. Seakan-akan aku menyerupakan dengan ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan. Barangsiapa di antara kalian yang bertemu dengannya maka bacakanlah kepadanya permulaan surat Al-Kahfi. Dia akan muncul di suatu jalan antara Syam dan Irak, lalu dia pergi membuat kerusakan, ke kanan dan ke kiri. Wahai hamba Allah! Teguhkanlah pendirianmu!”

Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa lama dia tinggal di bumi?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu pekan, dan selebihnya seperti hari-hari kamu sekarang.”
Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, ketika sehari seperti setahun, cukuplah bagi kami kalau shalat hanya sehari?”

Beliau menjawab, “Tidak, tetapi perkirakanlah sebagaimana hari biasanya.”

Kami bertanya, “bagaimana kecepatan Dajjal berjalan di bumi?” Beliau menjawab, “Dajjal berjalan seperti hujan ditiup angin.” Dia akan mendatangi suatu kaum, lalu diajaknya kaum itu supaya beriman kepadanya, maka mereka pun beriman dan mematuhi segala perintahnya. Diperintahkannya langit supaya menurunkan hujan, sehingga turunlah hujan dan diperintahkannya bumi supaya subur sehingga tumbuhlah tumbuh-tumbuhan. Kemudian (Jika hari sudah petang) ternak-ternak mereka pun pulang ke kandang dalam keadaan lebih gemuk, berpunuk lebih tinggi, kantung susunya lebih besar, dan perut lebih lebar (kenyang).”

Setelah itu, didatangi kaum yang lain, lalu diajaknya mereka supaya beriman kepadanya, tetapi mereka menolak ajakannya, maka dia berlalu dari mereka. Keesokan harinya, daerah kaum itu menjadi gersang, hujan tidak turun, dan tidak sedikit pun kekayaan mereka tersisa.

Kemudian, dia melewati suatu daerah yang sudah hancur, lalu dia berkata kepada daerah itu: “Keluarkanlah perbendaharaan kekayaanmu.” Maka keluarlah seluruh kekayaan negeri itu dan kekayaan-kekayaan itu mengikuti Dajjal seperti raja lebah yang pergi dengan diikuti rakyatnya.

Setelah itu, Dajjal memanggil seorang pemuda belia, lalu ditebasnya dengan pedang sehingga tubuh anak muda itu terbelah menjadi dua, bahkan belahannya terlempar sejauh sasaran anak panah yang ditembakkan. Kemudian, Dajjal memanggil tubuh yang telah terbelah itu untuk kembali, tenyata dia kembali datang seutuhnya dengan wajah berseri-seri sambil tertawa.

Sementara Dajjal berada dalam keasyikannya dengan perbuatan-perbuatannya yang amat merusak, Allah Ta’ala pun mengutus ‘Isa Al-Masih bin Maryam ‘alaihis salam. Dia turun di menara putih sebelah timur Damaskus dengan memakai dua pakaian berwarna sambil berpegangan pada dua sayap malaikat. Apabila dia menundukan kepala, turunlah air dari kepalanya, sedangkan apabila ia mengankat kepalanya, berjatuhanlah air jernih bagaikan biji=-biji perak seperti mutiara. Tidaklah orang kafir mencium bau nafasnya, melainkan dia pasti mati, sedangkan bau nafasnya tercium sejauh pandangan mata.

Kemudian, ‘Isa ‘alaihis salam mencari Dajjal sampai beliau mendapatkannya di pintu gerbang kota Ludd, lalu beliau membunuhnya. Setelah itu, ‘Isa ‘alaihis salam didatangi oleh suatu kaum yang dilindungi Allah dari kejahatan Dajjal. Beliau pun mengusap wajah dan menceritakan kedudukan mereka di surga. Kemudian, pada saat itu juga, Allah Ta’ala mewahyukan kepada ‘Isa ‘alaihis salam: “Aku pasti akan mengeluarkan hamba-hambaKu yang tidak terkalahkan oleh siapa pun yang memerangi mereka. Oleh karena itu, selamatkanlah hamba-hambaKu ke suatu bukit.”

Setelah itu, Allah Ta’ala membangkitkan Ya’juj dan Ma’juj. Mereka datang dengan cepat dari tempat yang tinggi (muncul dimana-mana). Bagian terdepan dari kelompok besar ini melewati danau Thiberia, lalu mereka meminum habis air danau tersebut sehingga ketika rombongan yang paling akhir melewatinya, mereka berakta: “Sesungguhnya dahulu danau ini ada airnya.”

Pasa saat itulah, Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabat beliau terkepung, sampai-sampai sebuah kepala sapi lebih berharga bagi mereka daripada seratus dinar bagi seseorang di antara kalian pada hari ini (karena mereka kehabisan makanan dan sangat membutuhkannya). Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabatnya berdo’a: “Semoga Allah menghancurkan Ya’juj dan Ma’juj.” Maka dari itu, Allah mengirimkan ulat yang menyerang leher mereka, sehingga mereka semua mati mendadak. Kemudian, Nabi ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabatnya turun semua ke daerah tersebut. Tidak sejengkal tanah pun yang didapatinya, melainkan tanah itu penuh dengan bau busuk.

Nabi Allah ‘Isa ‘alaihis salam dan para sahabatnya berdo’a lagi kepada ALlah (agar menyingkirkan bangaki-bangkai busuk itu). Maka Allah mengirimkan burung-burung sebesar unta untuk mengangkat bangkai-bangkai tersebut dan melemparkannya ke tempat yang dikehendaki Allah. Selanjutnya Allah menurunkan hujan sehingga ia menyapu bersih semua rumah permanen dan kemah-kemah dari bulu, sampai-sampai air tersebut menggenangi bumi sehingga keliahatan seperti cermin. Allah pun memerintahkan kepada bumi: “Tumbuhkan tumbuh-tumbuhanmu dan kembalikanlah keberkahanmu.”

Pada waktu itulah, sekelompok orang dapat kenyang dengan memakan sebutir delima saja, bahkan mereka dapat berteduh di bawah kulitnya. Rizki mereka penuh keberkahan, sehingga susu seekor unta cukup untuk sekian banyak orang. Susu seekor sapi cukup untuk prang satu suku. Susu seekor kambing cukup untuk sekelompok keluarga terdekat.

Ketika mereka sedang berada dalam keridhaan Allah yang demikian, tiba-tiba Allah mengirim angin balik yang berhembus melewati ketiak mereka. Angin tersebut mencabut roh setiap mukmin dan muslim sehingga yang tertinggal hanyalah orang-orang yang jahat pada waktu itu. Mereka pun hidup dengan melakukan hubungan badan secara terang-terangan seperti keledai. Pada saat itulah, kiamat terjadi.” (HR Muslim)

KISAH DAJJAL

باب أحاديث الدّجال وأشراط الساعة وغيرها Dari An-Naas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: ذَكَرَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – الدَّجَّال...